Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Featured Posts

Jumat, 13 Mei 2016

PAST- TENSE MORPHOLOGY AND PHONOLOGICAL DEFICIT IN CHILDREN WITH DYSLEXIA AND CHILDREN LANGUANGE IMPAIRMENT

- Tidak ada komentar
Nama              : Nur Ifani Khoirunisa’
Departemen   : MI
Review Jurnal Internasional

Judul
PAST- TENSE MORPHOLOGY AND PHONOLOGICAL DEFICIT IN CHILDREN WITH DYSLEXIA AND CHILDREN LANGUANGE IMPAIRMENT
Jurnal
Journal of Learning Disabilities
Volume & Halaman
46(3) 230-240
Tahun
2012
Penulis
-          Erin K. Robertson
-          Marc F. Joanisse
-          Amy S. Desroches
-          Alexandra Terry
Reviewer
 Nur Ifani Khoirunisa’
Tanggal
29 April 2016

Perkembangan disleksia ditandai dengan kemampuan membaca sangat rendah Prestasi meskipun yang normal kognitif dan emosional pengembangan (Snowling, 2000). Sementara disleksia umumnya dianggap sebagai defisit membaca, ada tumbuh sebuah konsensus bahwa anak-anak ini juga memiliki masalah dengan bahasa lisan, termasuk kesadaran fonologi (misalnya, Bruck & Treiman, 1990; Wagner & Torgesen, 1987). Untuk menjadi pembaca mahir, anak-anak perlu mengembangkan kuat grafem-fonem korespondensi, dan fonologi miskin pengolahan diyakini menghambat perkembangan ini keterampilan.
Sebanyak 63 peserta, terdaftar di first untuk kelas enam kelas, direkrut dari London, Ontario, sekolah daerah. Inklusi dalam penelitian ini didasarkan pada tes standar bahasa, membaca, dan prestasi kognitif dijelaskan berikut ini. Anak-anak tidak dilibatkan jika mereka tidak berbahasa Inggris sebagai bahasa pertama atau jika mereka memiliki neurologis frank gangguan, defisit perkembangan pervasif, atau gangguan pendengaran yang signifikan, semua didasarkan pada orangtua laporan. Anak-anak juga dikecualikan berdasarkan skor 1 SD di bawah atau di atas rata-rata pada ukuran kinerja IQ (rata skala skor 8-12, inklusif di Blok Desain dan Gambar Penyelesaian subyek dari Wechsler Skala Intelijen untuk Anak-Ketiga Edition, WISC-III; Wechsler, 1992).
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji-lampau morfologi pada anak-anak dengan disleksia. Minat khusus v dalah apakah anak-anak ini akan menunjukkan kesulitan tertentu dengan morfologi infleksional, yang kami diperiksa oleh memunculkan Tenses masa lalu biasa, tidak teratur, dan nonword dalam bahasa Inggris. Anak disleksia dibandingkan dengan biasanya berkembang rekan-rekan yang sama-usia dan kontrol yang lebih muda. Selain itu, mereka dibandingkan dengan anak-anak dengan gangguan bahasa frank (kelompok dengan LI) yang dikenal memiliki masalah khusus dengan-lampau morfologi (misalnya, Conti- Ramsden dkk., 2001; Norbury dkk., 2001; Beras, Wexler, & Cleave, 1995; Van der Lely & Ullman, 2001; Vargha- Khadem, Watkins, Alcock, Fletcher, & Passingham, 1995). Secara keseluruhan, anak-anak dengan disleksia memiliki masalah yang sama dengan Tenses masa lalu, meskipun tingkat kesulitan mereka tidak separah apa yang diamati pada anak dengan LI.

lampiran Penelitian ini mengungkapkan bahwa anak-anak dengan disleksia dan LI memiliki masalah yang sama di kesadaran fonologi dan decoding nonword dan kesulitan yang sama dalam membentuk bentuk lampau dari kata-kata yang nyata. Sebaliknya, anak-anak dengan LI menunjukkan penurunan lebih besar dalam-lampau elisitasi dari nonwords. Studi masa depan harus memeriksa kemungkinan bahwa beberapa dan berbeda bentuk fonologis pengolahan kemungkinan direkrut ketika mengubah kata kerja dari present tense untuk tegang masa lalu, dan sebagai konsekuensi adalah mungkin bahwa agak berbeda mendasari defisit dapat menyebabkan masalah dengan morfologi.

MAKNA KESEDIHAN BAGI REMAJA DI PEKANBARU, RIAU

- Tidak ada komentar
Peringkas
Nuni Laelatul Rizki
Topik
Makna Kesedihan Bagi Remaja

Penulis
Dody Leyno Amperawan, Ahyani Radhiani Fitri, Hidayat
Tahun
2014
Judul
Makna Kesedihan Bagi Remaja Di Pekanbaru, Riau
Jurnal
Jurnal Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Vol dan Halaman
Vol.10., No. 2.,74 - 79

Landasan Teori
Perbedaan emosi negatif dalam bentuk perilaku individual merupakan fenomena dalam kehidupan manusia. perubahan hubungan interpersonal. Secara keseluruhan, pengalaman kesedihan lebih dimaknai sebagai hal yang menyebabkan munculnya emosi negatif dan mampu memberikan perilaku yang berarti di kemudian hari. Remaja cenderung memaknai kesedihan sebagai kesadaran diri daripada penilaian pengala­man negatif.
Metode
a.  Metode penelitian menggunakan pen­dekatan psikologi indigenous dengan jumlah responden sebanyak 383 remaja yang telah mengisi kuesioner dari Kim (2008).
b.  Melakukan dis­kusi kelompok terarah pada sampel remaja untuk mengeksplorasi hal-hal yang berhun­gan dengan kesedihan yang dialami remaja.
c.  Analisis data penelitian dilakukan menurut beberapa tahapan dari Hayes (2000) yaitu data yang akan dianalisis disiapkan terlebih dahulu, identifikasi informasi khusus yang relevan dengan topik penelitian, pengelom­pokan data ke dalam beberapa tema, vali­dasi terhadap kategori yang telah dilakukan, analisis pengujian data kembali untuk me­mastikan ketepatan data yang telah dikat­egorisasikan, penyusunan konstruk yang mendukung hasil kategorisasi data yang dibuat, dan selanjutnya membahas ilustrasi data berdasarkan temuan tema yang ada.
Hasil
Penelitian ini menghasilkan dua kat­egori besar yaitu kesadaran diri dan pen­galaman negatif sebagai makna kesedihan dari keseluruhan jawaban responden dengan mengesampingkan jawaban subjek yang ko­song, dan jawaban yang tidak relevan dengan pertanyaan. Hasil penelitian memperlihatkan dari keseluruhan 275 responden perempuan mengemukakan 71,3 % memaknai kesedihan sebagai kesadaran diri, dan 28,7 % merupa­kan pengalaman negatif. Sedangkan 108 laki – laki mengemukakan 72,2 % kesadaran diri dan 27, 8 % pengalaman negatif merupakan makna kesedihan yang pernah dialami. Hal ini menunjukkan bahwa baik remaja perempuan maupun lakii – laki di Pekanbaru menganggap kesedihan dimaknai lebih sebagai kesadaran diri daripada penilaian pengalaman negatif.

Kekuatan dan kelemahan
Kekuatan : Jurnal ini menggunakan banyak sumber landasan teori sehingga jurnal mempunyai dasr yang kuat dan responden yang dilibatkan dalam jumlah banyak sehingga mempunyai hasil yang relevan dan beragam.
Kelemahan : Pertanyaan dalam kuisioner yang digunakan kurang dimengerti oleh para reesponden sehingga ada beberapa responden yang tidak mengisi kuisioner ataupun jawaban yang diberikan tidak relevan dan berkaitan dengan pertanyaan.
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja Pekanbaru baik laki – laki dan perem­puan sama – sama memaknai kesedihan se­bagai pengalaman negatif dan kesadaran diri. Menyadari kesedihan sebagai pembelajaran diri termasuk juga kebutuhan akan hubungan interpersonal dan transendental lebih banyak dialami daripada kesedihan sebagai pengala­man negatif saja.



FENOMENA CINTA LESBIAN

- Tidak ada komentar
Review Jurnal Penelitian Psikologi Klinis

Peringkas / NIM
Izzatur Rosyidah
Tanggal
14 April 2016
Topik
Homoseksual

Penulis
Anita Susanti dan Mochamad Widjanarko
Tahun
2015
Judul
Fenomena Cinta Lesbian
Jurnal
Jurnal Psikologi Undip
Vol dan Halaman
Vol.14., No.22., 160-173

Landasan Teori
Homoseksual adalah kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai jenis kelamis sejenis atau identitas gender yang sama. Mereka mengalami ketertarikan fisik, seksual, dan cinta yang bertahan lama terhadap individu tersebut. Orientasi seksual disebut dengan heteroseksual, homoseksual, dan biseksual. Wanita homoseksual dinamakan dengan lesbian.
Metode
a.   Metode penelitian kualitatif
b.   Melakukan pendekatan fenomenologis
c.   Menggunakan teknik bola salju (snowball sampling) yakni bertemu dengan komunitas lesbian dari satu subyek lalu mendapatkan subyek yang lain dengan  cara disarankan oleh subyek pertama.
d.  Pengambilan data degan cara observasi dan wawancara
e.   Teknik analisis dengan matriks oleh Miles dan Hubbeman, yakni secara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
f.    Uji kredibelitas dengan ketekunan pengamatan, uraian rinci, pengecekan anggota sera cheking dan recheking data.
Manipulasi
Pada umumnya cinta lesbian itu sangat mendalam dan lebih hebat dari cinta heteroseksual, meskipun tidak mendapatkan kepuasan seksual yang wajar. Penulis melakukan prelimery interview dengan subyek, yang hasilnya adalah subyek melakukan ekspresi ketertarikannya dengan sembunyi-sembunyi.

Subyek  mencapai dua level keintiman yang meliputi merasakan kenyamanan, tidak bisa berpisah dengan pasangan dan selalu ingin bersama, menyukai kepribadian pasangan, memiliki keinginan untuk membahagiakan, saling berbagi, merasa mendapat dukungan dan doronga dari pasangan dan menganggap penting orang yang dicintai.
Ia juga memiliki ketertarikan fisik, melakukan kontak fisik dan kepuasan seksual (berciuman dan berhubungan seksual). Biasanya dilakukan secara bergantian
Komitemen jangka pendek, ingin merasakan dan mencintai pasangan. Jangka panjangnya, ingin mempertahankan, berusaha bersatu, hidup bersama selamanya meskipun pasangannya dijodohkan

Konflik yang muncul adalah perselingkuhan, adanya orang ke tiga, perasaan cemburu karena pasangan bertemu dengan mantan, tuntutan menikah dari keluarga seperti perjodohan, sikap plin-plan pasangan, adanya trauma dengan pasangan lawan jenis, masih mencintai mantannya, tidak berkomunikasi secara terbuka.

Harapan dimasa depan adalah ingin menikah dengan  lawan jenis yang sudah mengerti dirinya sebenarnya, ingin tetap berhubungan dengan pasangan sejenisnya, ada pula yang berkeinginan menikah meskipun sampai ke luar negeri, ada pula yang ingiin menikah dengan sesama jenis sedangkan menikah dengan lawan jenis hanyalah status palsu.
Hasil
Subyek 1 dan 2 sudah pernah mengalami pengalaman cinta sejenis dimasa lalu. Sedangkan subyek 3 baru pertama kali. Hal ini diawali dari keintiman yang terjalin, lalu muncul hasrat, dan komitmen dengan hubungan cinta yang dijalani.

Kebanyakan lesbian menemukan interaksi seksual dengan wanita sangat memuaskan. Biasanya mereka mengarah ke orgasme. Pemuasan seksual secara oral dan melalui alat kelamin bagian luar.
Kekuatan dan kelemahan
Kekuatan : Dalam jurnal ini memuat banyak literatur dan referensi lain. Sehingga data yang didapatkan kuat, berdasarkan secara empirik maupun teoritis.
Kelemahan :  Terbatasnya subyek dan pendalaman informasi kurang. Seperti bagaimana lesbian ini menjalani kehidupan cinta sehari-harinya, bagaimana pengungkapan dan ekspresi cinta dari pasangan lesbian, dan lain sebagainya.
Kesimpulan
Fenomena cinta lesbian ini sudah ada semenjak subyek remaja, dan ada harapan untuk menikah dengan pasangan sejenisnya. Meskipun tidak semua memiliki level keintiman yang sama. Mereka juga memiliki hassrat dan keinginan untuk menikah sesama jenis


CARA MUDAH MEMPELAJARI EKSISTENSIALISME

- Tidak ada komentar
MEMPELAJARI AKAR PSIKOLOGI HUMANISTIK
“Manusia itu tidak lain dari apa yang dia ciptakan sendiri.”-Jean Paul Sartre

Saat ini psikologi mempunyai 3 Grand Teori yang masih relevan untuk digunakan di zaman modern ini. Salah satu dari grand teori tersebut adalah Humanistik. Berbicara mengenai humanistik tentu kita akan berbicara mengenai Abraham Maslow dengan hierarki kebutuhannya, lalu Carl Rodgers dengan self  (diri)-nya, lalu Victor Frankle dengan logoterapinya dan masih banyak lagi tokoh-tokoh humanistik lain yang dikenal di dunia psikologi.  Keberadaan humanistik tidak lepas dari filsafat. Akar filsafat yang mendasari munculnya humanistik adalah eksistensialisme dan fenomenologi.
            Buku dengan judul asli Existentialisme Made Easy (Cara Mudah Mempelajari Eksistensialisme) merupakan karya Nigel Rodgers & Mel Thompson yang akan membawa kita menjelaji dunia eksistensialisme secara mendalam dan mudah. Buku ini terbagi menjadi 9 bab yang masing-masing bab akan membawa kita masuk ke dunia eksistensialisme dan membuat kita seringkali merefleksikan kebenaran dari eksistensialisme itu sendiri melalui apa yang telah kita lalui.
            Bagian pertama menceritakan tentang awal mula eksistensialisme muncul. Berawal dari seorang penulis yang tinggal dan hidup di Paris, yaitu Jean Paul Satre, berasal dari kalangan penulis yang hidup dan bekerja di kafe-kafe Paris, berdiskusi, beradu argumentasi, minum dan berpikir ditengah kebisingan hidup setiap hari (existentialisme made easy, hal.3).  Karyanya yang paling fenomenal dan menginspirasi munculnya eksistensialisme adalah Being and Nothingness (1943), karya ini telah menggoyang dan menghebohkan Paris di tahun 1945 (atau pasca berakhirnya perang dunia kedua).
Text Box: Data buku
Judul   : “Cara Mudah
     Mempelajari
     Eksistensialisme.
    Original  text:
    Existentialisme
   Made Easy”
Penulis   : Nigel Rodgers &
    Mel Thompson
Penerbit  : Indeks
Cetakan   : Pertama
Tebal    :  -
ISBN    : 978-979-062-406-3

            Walaupun eksistensialisme sering kali dikaitkan dengan Sartre, sebenarnya masih terdapat tokoh pemikir eksistensialis sebelum, sesaat dan sesudah Sartre. Pemikir sebelum Sartre antara lain  Pascal, Kierkegaard dan Nietzsche. Lalu tokoh lainnya adalah Heidegger (dengan karyanya yaitu Being and Time)¸Camus, Bultmann, Tillich dan lain sebagainya.
            Filsafat eksistensialisme berbicara mengenai manusia sebagai aktor utama dalam kehidupannya. Hal ini jelas membantah pandangan filsuf Decartes dengan corgito ergo sum-nya. Pandangan lain yang dikemukakan oleh eksistensialisme adalah eksistensi mendahului esensi. Selanjutnya eksistensialisme banyak juga membahas mengenai kebebasan, pilihan dan tanggung jawab serta hidup yang otentik.
            Buku ini menawarkan kemudahan bagi individu yang ingin mempelajari filsafat eksistensialisme. Akan tetapi, tetap saja terdapat kesulitan-kesulitan memahami isi dan maksud dari kalimat-kalimat yang ditawarkan. Bahkan terdapat beberapa kata yang memang terdengar asing, sehingga perlu kecermatan yang lebih untuk memahami makna kata tersebut.
            Secara keseluruhan buku ini cocok dibaca bagi siapa pun yang ingin mendalami atau sedang beajar dunia filsafat eksistensialisme dan humanistik. Selamat menyelami eksistensi hidup Anda untuk mendapatkan esensinya.